Istilah “Long Covid” sudah menjadi ungkapan sehari-hari. Ini menggambarkan labirin gejala yang bertahan lama setelah infeksi akut berlalu. Kelelahan. Kabut otak. Sesak napas. Namun ada lapisan lain dalam cerita ini yang baru mulai diungkapkan oleh para dokter. Namanya Neuro-Covid.
Ini bukan sekedar kata kunci. Ini adalah fokus klinis tentang bagaimana virus merusak sistem saraf dan otak. Meskipun banyak pasien mengalami kesulitan dalam pemulihan fisik, semakin banyak pasien yang melaporkan penurunan kognitif yang terasa tidak terlihat namun melemahkan. Pertanyaannya bukan lagi hanya soal persistensi virus. Ini tentang perubahan struktural dan fungsional pada jalur saraf.
Apa Sebenarnya Neuro-Covid itu?
Obat-obatan menggunakan istilah “Neuro-Covid” untuk mengkategorikan komplikasi neurologis yang timbul dari infeksi SARS-CoV-2. Ini bukan sekadar efek samping demam atau rawat inap. Itu adalah penghinaan langsung atau tidak langsung terhadap sistem saraf.
Cakupannya luas. Ini mencakup kondisi seperti meningitis, ensefalitis, dan stroke. Namun hal ini juga mencakup isu-isu yang lebih halus. Bayangkan sakit kepala kronis. Pusing. Hilangnya bau atau rasa. Bahkan gejala kejiwaan seperti kecemasan dan depresi yang muncul pasca infeksi termasuk dalam kategori ini.
“Kami sedang melihat penyakit multisistem yang sering menyerang sistem saraf,” catat para ahli.
Otak tidak terisolasi. Ia berada dalam keseimbangan yang halus dengan bagian tubuh lainnya. Ketika peradangan meningkat di tempat lain, otak akan merasakannya. Inilah sebabnya mengapa Neuro-Covid sering kali tumpang tindih dengan gejala Long Covid lainnya.
Bagaimana Virus Mempengaruhi Otak?
Mekanismenya masih dipetakan. Para peneliti telah mengidentifikasi beberapa jalur. Salah satunya melibatkan virus yang melintasi sawar darah-otak. Penghalang ini ada untuk melindungi otak dari patogen. SARS-CoV-2 dapat mengeksploitasi reseptor spesifik, seperti ACE2, untuk memasuki jaringan saraf secara langsung.
Begitu masuk, bisa memicu peradangan. Peradangan saraf ini mengganggu fungsi normal otak. Hal ini dapat menyebabkan stres oksidatif dan kerusakan neuron.
Jalur lainnya adalah jalur tidak langsung. Gangguan pernapasan yang parah selama infeksi akut menyebabkan hipoksia. Kadar oksigen yang rendah membahayakan sel-sel otak. Selain itu, respons imun tubuh dapat menyebabkan pembekuan darah. Gumpalan kecil di pembuluh darah otak dapat menyebabkan stroke ringan yang tidak disadari namun menumpuk seiring berjalannya waktu.
Ini bukanlah risiko hipotetis. Hasil tersebut diamati pada sebagian besar pasien.
Gejala Apa yang Menandakan Keterlibatan Neurologis?
Pasien sering menggambarkan pengalaman mereka sebagai “kabut otak”. Ini adalah kenyataan klinis. Ini melibatkan kesulitan dengan memori, konsentrasi, dan fungsi eksekutif. Tugas-tugas yang tadinya memerlukan sedikit usaha kini terasa berat.
Namun gejalanya sangat bervariasi.
- Gangguan Kognitif: Kesulitan menemukan kata-kata. Kesulitan melakukan banyak tugas. Hilangnya ingatan jangka pendek.
- Masalah Sensorik: Sakit kepala terus-menerus. Migrain. tinitus. Hilangnya rasa (ageusia) atau bau (anosmia).
- Masalah Motorik: Kelemahan otot. Tremor. Mati rasa atau kesemutan pada ekstremitas.
- Perubahan Psikiatri: Kecemasan baru. Depresi. Gangguan tidur.
Gejala ini bisa muncul beberapa minggu setelah infeksi awal. Mereka juga bisa muncul beberapa bulan kemudian. Garis waktunya tidak dapat diprediksi.
Mengapa Diagnosis Dini Penting?
Mengidentifikasi Neuro-Covid sangat penting untuk penatalaksanaan yang tepat