Mengapa Buah Menyebabkan Sakit Perut: 6 Alasan Umum

16

Buah-buahan banyak direkomendasikan sebagai bagian dari pola makan sehat, karena dikaitkan dengan penurunan risiko penyakit jantung, stroke, dan kanker tertentu. Namun banyak orang yang mengalami sakit perut, kembung, atau diare setelah makan buah. Ini bukan tanda untuk menghindarinya sama sekali, melainkan indikasi bahwa ada sesuatu dalam sistem pencernaan Anda yang tidak beres. Berikut enam kemungkinan alasan mengapa buah bisa mengganggu perut Anda, beserta solusi praktisnya.

1. Malabsorpsi atau Intoleransi Fruktosa

Salah satu penyebab utamanya adalah kesulitan mencerna fruktosa, gula alami yang banyak ditemukan dalam buah-buahan. Ketika usus kecil Anda tidak dapat menyerap fruktosa secara efisien, hal ini menyebabkan gula yang tidak tercerna berfermentasi di usus, menyebabkan gas, kembung, diare, dan ketidaknyamanan perut. Hal ini dapat berkisar dari malabsorpsi ringan—di mana tubuh Anda memproses fruktosa secara perlahan—hingga intoleransi fruktosa herediter yang lebih jarang, yaitu suatu kondisi genetik yang memerlukan penghindaran fruktosa sepenuhnya.

Perbaiki: Jika Anda mencurigai adanya intoleransi fruktosa, konsultasikan dengan dokter. Untuk malabsorpsi, membatasi buah-buahan tinggi fruktosa (apel, pir, buah kering) dan memilih pilihan rendah fruktosa seperti alpukat, pisang, melon, atau stroberi dapat membantu.

2. Asupan Serat Berlebihan

Buah-buahan merupakan sumber serat yang sangat baik, yang penting untuk kesehatan pencernaan dan dapat menurunkan risiko diabetes dan penyakit jantung. Namun, meningkatkan asupan serat secara cepat—dengan tiba-tiba mengonsumsi banyak buah berserat tinggi seperti apel, mangga, atau raspberry—dapat membebani sistem pencernaan Anda, menyebabkan gas, kembung, dan kram.

Perbaiki: Tingkatkan asupan serat Anda secara bertahap selama berminggu-minggu agar usus Anda memiliki waktu untuk beradaptasi. Minumlah banyak air bersama buah-buahan berserat tinggi untuk membantu pencernaan dan meminimalkan rasa tidak nyaman. Usahakan untuk mengonsumsi sekitar 22–34 gram serat setiap hari.

3. Intoleransi Makanan

Selain fruktosa, beberapa orang kesulitan dengan senyawa lain dalam buah. Histamin, yang secara alami terdapat dalam pisang dan nanas, dapat memicu reaksi intoleransi seperti diare, gas, sakit kepala, atau mual. Terkadang masalahnya bukan pada buah itu sendiri, melainkan kepekaan terhadap gula di dalamnya.

Perbaiki: Jika Anda mencurigai adanya intoleransi makanan, konsultasikan dengan dokter Anda untuk mengidentifikasi pemicunya. Menghilangkan atau mengurangi buah yang mengganggu dapat mengatasi gejalanya.

4. Alergi Buah

Meskipun kurang umum, alergi buah sebenarnya ada dan dapat menyebabkan reaksi yang lebih parah. Gejalanya meliputi mulut gatal, gatal-gatal, bengkak, sakit perut, dan dalam kasus ekstrim, anafilaksis (reaksi alergi yang mengancam jiwa). Penting untuk membedakan alergi dari intoleransi; alergi sering kali melibatkan gejala kulit atau pernafasan, sedangkan intoleransi terutama mempengaruhi pencernaan.

Perbaiki: Jika Anda mengalami reaksi alergi, hindari buah pemicunya dan konsultasikan dengan dokter untuk tes alergi.

5. Refluks Asam (GERD)

Jika Anda menderita penyakit refluks asam atau penyakit refluks gastroesofagus (GERD), buah-buahan tertentu dapat memperburuk gejalanya. Buah-buahan asam seperti tomat, lemon, jeruk nipis, jeruk, dan grapefruits dapat memicu mulas, regurgitasi, dan sakit perut pada penderita GERD.

Perbaiki: Konsultasikan dengan dokter Anda untuk penanganan GERD. Menghindari buah-buahan asam dapat mengurangi gejala.

6. Keracunan Makanan

Buah mentah terkadang mengandung bakteri seperti Salmonella, yang menyebabkan keracunan makanan. Gejalanya, antara lain sakit perut, demam, muntah, dan diare, bisa muncul dalam hitungan jam hingga hari setelah dikonsumsi.

Perbaiki: Keracunan makanan biasanya hilang dengan sendirinya dengan hidrasi. Cari pertolongan medis jika Anda mengalami tinja berdarah, diare terus-menerus, demam tinggi, atau dehidrasi parah.

Intinya: Sakit perut setelah makan buah belum tentu menjadi alasan untuk meninggalkan makanan sehat ini. Mengidentifikasi penyebab utamanya—apakah malabsorpsi fruktosa, kelebihan serat, intoleransi, alergi, refluks asam, atau keracunan makanan—adalah kunci untuk menemukan solusi yang tepat. Jika gejalanya terus berlanjut, konsultasikan dengan dokter untuk diagnosis dan saran pribadi.