Mitos Berbahaya tentang Makanan “Baik” dan “Buruk”.

11

Cara kita membicarakan makanan bukan hanya soal nutrisi; ini sangat terkait dengan cara kita memandang diri kita sendiri. Selama bertahun-tahun, masyarakat dengan seenaknya memberi label pada makanan tertentu sebagai “baik” (buah-buahan, sayur-sayuran) dan makanan lain sebagai “buruk” (makanan penutup, makanan ringan olahan). Moralisasi yang tampaknya tidak berbahaya ini memiliki efek buruk pada citra tubuh dan kesehatan mental.

Mengapa Ini Penting: Menetapkan moralitas pada makanan bukan hanya tentang budaya diet — ini tentang bias sosial yang lebih dalam. Bahasa ini memperkuat fatphobia, pola makan yang tidak teratur, dan rasa bersalah yang tidak perlu saat makan.

Akar Moralisasi Pangan

Gagasan bahwa beberapa makanan “berbudi luhur” sementara yang lain “berdosa” bukanlah fenomena alami. Ini adalah sebuah konstruksi, yang secara historis terkait dengan bias anti-lemak. Seperti yang dijelaskan oleh psikoterapis Paula Atkinson, keyakinan bahwa “manusia yang baik adalah orang yang menjaga tubuhnya tetap kecil” memicu kategorisasi berbahaya ini.

Bias ini bukanlah hal baru. Sosiolog Sabrina Strings menelusuri asal-usulnya hingga kolonialisme Eropa pada abad ke-17 dan ke-18, di mana kegemukan dikaitkan secara keliru dengan inferioritas rasial dan kurangnya pengendalian diri. Konteks sejarah ini mengungkapkan bagaimana moralitas pangan selalu berkaitan dengan kekuasaan, kendali, dan penilaian.

Dampaknya terhadap Kesehatan Mental

Ketika makanan menjadi persoalan moral, hal itu menimbulkan rasa malu dan bersalah. Jillian Lampert, ahli diet terdaftar, mencatat bahwa hal ini dapat menyebabkan gangguan makan, kecemasan, dan citra diri negatif. Obsesi terhadap pola makan “bersih” bahkan dapat bermanifestasi sebagai orthorexia, yaitu keterikatan yang tidak sehat pada makanan “murni”.

Ini bukan hanya tentang pilihan individu. Faktor-faktor di luar pola makan – genetika, kondisi sosial ekonomi, akses terhadap layanan kesehatan – memainkan peran besar dalam bentuk dan ukuran tubuh. Seperti yang diungkapkan ahli diet Lindsay Wengler, dua orang bisa makan dengan cara yang sama namun tetap memiliki tubuh yang berbeda. Gagasan bahwa moralitas pangan adalah tentang kegagalan pribadi mengabaikan realitas yang lebih luas.

Membebaskan Diri dari Biner

Solusinya bukanlah dengan melakukan diet ketat; itu adalah perubahan pola pikir. Langkah pertama adalah memberi izin pada diri sendiri untuk makan apa yang Anda inginkan tanpa menghakimi. Berfokuslah pada bagaimana makanan memengaruhi perasaan Anda daripada melabelinya sebagai “baik” atau “buruk”.

Namun, perubahan individual saja tidak cukup. Pesan-pesan beracun tentang makanan dan tubuh tersebar luas dalam periklanan, media sosial, dan bahkan sistem layanan kesehatan. Perubahan nyata memerlukan perubahan sistemik dalam cara kita berbicara tentang makanan dan tubuh.

Intinya: Makanan adalah bahan bakar, kesenangan, dan budaya — bukan ujian moral. Dengan menolak kerangka “baik” versus “buruk”, kita dapat bergerak menuju hubungan yang lebih sehat dengan pola makan dan diri kita sendiri.