Diet Ultra-Proses Terkait dengan Tulang yang Lebih Lemah: Sebuah Studi 12 Tahun

17

Penelitian baru menegaskan hubungan antara konsumsi tinggi makanan ultra-olahan dan penurunan kepadatan tulang, sehingga meningkatkan risiko patah tulang dalam jangka panjang. Studi tersebut, yang menganalisis data lebih dari 163.000 orang dewasa di Biobank Inggris selama 12 tahun, mengungkapkan bahwa mereka yang paling banyak mengonsumsi makanan ultra-olahan – yang didefinisikan sebagai produk yang diproduksi secara industri dengan bahan-bahan halus dan aditif – memiliki tulang yang jauh lebih lemah.

Ancaman Tak Terlihat terhadap Kesehatan Tulang

Kebanyakan orang tidak mempertimbangkan kesehatan tulangnya sampai timbul suatu masalah, seperti patah tulang atau diagnosis osteoporosis. Tulang adalah jaringan hidup yang terus-menerus dibangun kembali, bergantung pada nutrisi dari makanan. Meskipun kalsium dan vitamin D terkenal baik untuk kesehatan tulang, kualitas pola makan modern secara keseluruhan – khususnya dominasi makanan ultra-olahan – kini sedang dalam pengawasan.

Temuan Studi: Kepadatan Lebih Sedikit, Risiko Lebih Tinggi

Para peneliti menemukan bahwa peserta yang mengonsumsi makanan ultra-olahan dalam jumlah tertinggi (kira-kira delapan porsi setiap hari) menunjukkan kepadatan mineral tulang yang lebih rendah di area utama seperti pinggul dan tulang belakang. Untuk setiap 3,7 porsi tambahan per hari, risiko patah tulang pinggul meningkat sebesar 10,5%. Efeknya terutama terlihat pada orang dewasa di bawah 65 tahun dan mereka yang memiliki berat badan lebih rendah.

Apa yang Dianggap Sangat Diproses?

Kategori ini mencakup berbagai macam makanan yang biasa dikonsumsi:

  • Sereal sarapan
  • Yoghurt rasa
  • Bar makanan ringan
    *Oatmeal instan
  • Makanan panggang yang dikemas
  • Makanan beku

Banyak di antaranya yang dipasarkan sebagai pilihan yang nyaman atau bahkan “sehat”, sehingga menutupi efek buruknya terhadap kepadatan tulang.

Mengapa Makanan Ultra-Proses Melemahkan Tulang?

Tulang membutuhkan renovasi terus-menerus, bergantung pada nutrisi seperti kalsium, magnesium, potasium, protein, dan vitamin K. Makanan ultra-olahan biasanya menghasilkan kalori tanpa bahan penyusun penting ini. Asupan tinggi sering kali menggantikan makanan utuh – sayuran, kacang-kacangan, produk susu, kacang-kacangan, dan ikan – yang secara alami mendukung kesehatan tulang. Selain itu, makanan ini sering kali mengandung banyak natrium, karbohidrat olahan, dan zat aditif yang dapat menyebabkan peradangan dan gangguan metabolisme, sehingga semakin menghambat pemeliharaan tulang.

Apa Artinya Bagi Diet Anda

Penelitian ini tidak menyerukan untuk menghilangkan semua makanan olahan. Sebaliknya, ini menyoroti pentingnya keseimbangan pola makan. Memprioritaskan makanan utuh dan minimal diproses memastikan asupan nutrisi yang cukup untuk kekuatan tulang jangka panjang. Fokus pada:

  • Menambahkan sayuran berdaun hijau dan sayuran ke dalam makanan.
  • Termasuk makanan kaya kalsium seperti yogurt, produk susu, atau makanan alternatif yang diperkaya.
  • Mengutamakan protein dari telur, ikan, ayam tanpa lemak, dan daging sapi.
  • Ngemil kacang-kacangan, biji-bijian, atau buah-buahan sebagai ganti camilan kemasan.

Mengonsumsi pola makan yang didominasi oleh makanan ultra-olahan dapat mengganggu kesehatan tulang seiring berjalannya waktu, sehingga meningkatkan risiko patah tulang. Pola makan seimbang yang berpusat pada makanan utuh sangat penting untuk menjaga kekuatan tulang sepanjang hidup.