Vitamin D dan Pradiabetes: Manfaat Kecil, Bukan Obatnya

17

Lebih dari sepertiga orang dewasa Amerika – sekitar 96 juta orang – menderita pradiabetes, suatu kondisi dimana kadar gula darah meningkat namun belum cukup tinggi untuk diklasifikasikan sebagai diabetes tipe 2. Meskipun kadar vitamin D yang rendah telah dikaitkan dengan pradiabetes, suplementasi hanya memberikan sedikit manfaat dan tidak boleh menggantikan perubahan gaya hidup yang telah terbukti.

Bagaimana Vitamin D Mempengaruhi Gula Darah

Vitamin D berperan dalam sensitivitas dan sekresi insulin, proses penting untuk pengendalian gula darah. Ini juga mengurangi peradangan, yang dapat mengganggu cara tubuh menggunakan insulin. Penelitian menunjukkan bahwa individu pradiabetes seringkali memiliki kadar vitamin D yang lebih rendah, sehingga menimbulkan pertanyaan apakah suplementasi dapat membantu membalikkan tren tersebut.

Penelitian Terbatas: Perbaikan Kecil Seiring Waktu

Penelitian menunjukkan beberapa dampak positif, meski belum meyakinkan. Sebuah penelitian selama tiga tahun menemukan bahwa orang dengan pradiabetes yang mengonsumsi suplemen vitamin D memiliki kemungkinan 30% lebih besar untuk kembali ke kadar gula darah normal dibandingkan dengan kelompok plasebo. Analisis lain menunjukkan sedikit penurunan risiko berkembang menjadi diabetes tipe 2 – dari 25% menjadi 22% dalam tiga tahun.

Namun, belum ada dosis optimal yang ditetapkan, dan efek jangka panjang dari suplementasi dosis tinggi masih belum diketahui. Temuan-temuan ini bersifat inkremental, bukan transformatif.

Perubahan Gaya Hidup Adalah Kuncinya: Vitamin D Adalah Yang Sekunder

Pakar medis menekankan bahwa vitamin D tidak boleh menjadi pendekatan utama dalam pencegahan diabetes. Intervensi gaya hidup – pola makan sehat dan olahraga teratur – jauh lebih efektif. Studi menunjukkan perubahan ini dapat mengurangi risiko perkembangan dari pradiabetes menjadi diabetes tipe 2 hingga 15 poin persentase dalam tiga tahun, dampak yang jauh lebih besar dibandingkan vitamin D saja.

“Suplementasi vitamin D merupakan intervensi yang jauh lebih lemah dibandingkan dengan faktor gaya hidup,” kata ahli endokrinologi Anne Cappola, MD. “Saya tidak ingin ini menjadi gangguan.”

Prioritaskan Sumber Alam Terlebih Dahulu

Sebelum mempertimbangkan suplemen, disarankan untuk meningkatkan vitamin D melalui paparan sinar matahari atau sumber makanan – seperti ikan berlemak, telur, dan makanan yang diperkaya. Asupan harian yang disarankan adalah 600 IU hingga usia 70 tahun, meningkat menjadi 800 IU setelahnya. Dosis yang lebih tinggi mungkin sesuai untuk individu dengan defisiensi yang terdokumentasi, sebagaimana ditentukan oleh penyedia layanan kesehatan.

Kesimpulannya, suplemen vitamin D mungkin menawarkan sedikit manfaat untuk pengendalian gula darah pada pradiabetes, namun suplemen tersebut bukanlah pengganti intervensi gaya hidup yang sudah ada. Memprioritaskan pola makan, olahraga, dan sumber vitamin D alami tetap menjadi strategi paling efektif untuk mencegah perkembangan diabetes tipe 2.